 |
| Ir. H. Artono |
Kisah Artono dalam menjalankan usaha patut disimak,
bagaimana langkah pria kelahiran Lumajang itu
memulai usaha dari nol pada 1989 di Ngingas, Waru, Kab. Sidoarjo.
Kemudian dalam perjalanannya kini memiliki industri komponen listrik,
kompor elpiji/Liquid Petroleum Gas (LPG) dan bergerak lagi menangani
cold storage. Industri tersebut ditunjang dengan fasilitas
produksi/pabrik cukup besar yang dibangun di bilangan Ambeng-ambeng
Selatan, Waru, Kab. Sidoarjo.
Bidang usaha yang digelutinya itu memanfaatkan bahan baku dari
logam, dimana harus ditunjang penguasaan teknologi tertentu agar
menghasilkan produk berkualitas. Dan tentunya dapat diterima pasar.
Perjalanan
bisnis Artono tidak selalu mulus. Di tengah perjalanan dalam menekuni
usaha sempat mengalami jatuh bangun, tetapi dengan kegigihan dan belajar
dari kondisi yang menimpanya dapat bangkit.
“Jadi
pengusaha itu tidak boleh kapok saat mengalami kerugian atau kejatuhan,
melainkan harus bangun lagi untuk memperbaiki serta menata aspek-aspek
dalam menjalankan bisnis agar lebih baik,” tuturnya. Aspek yang
dimaksudkannya antara lain soal manajemen dan membaca situasi yang
sedang terjadi, untuk melangkah ke masa depan yang lebih baik. Maka
pengusaha harus memiliki semangat baja, tidak mudah menyerah dengan
keadaan yang kurang menggembirakan.
Saat
itu, pada tahun 2000, Artono di bawah bendera PT Arto Metal mulai
memproduksi kompor berbahan bakar minyak tanah berbahan baku stainless
steel dengan merek dagang Geni. Ditunjang dengan divisi pemasaran cukup
gigih, penjualannya cenderung meningkat hingga mencapai 25.000 unit per
bulan yang ditujukan ke berbagai wilayah di dalam negeri.
Usaha
yang dikembangkan bertahun-tahun itu langsung anjlok ketika pemerintah
memprogramkan konversi bahan bakar minyak tanah ke LPG. Puluhan ribu
produk kompor Geni tidak terserap pasar, dan volume penjualannya turun
menjadi hanya 5.000 unit per bulan.
“Masyarakat
waktu itu cenderung menunggu pembagian kompor gas gratis dari
pemerintah. Otomatis saya rugi besar sebab produk kompor minyak tanah
Geni tidak terserap pasar dan peralatan mesin produksinya pun [yang
membutuhkan investasi tidak kecil] mangkrak,” papar Artono.
Namun,
dia memandang peluang lain yakni pembuatan kompor gas, terlebih-lebih
pemerintah membuka tender bagi para produsen kompor gas yang akan
dibagikan kepada masyarakat. Artono lantas menambah mesin baru untuk
memproduksi kompor gas dengan menggunakan bahan baku baja lembaran
produksi PT Krakatau Steel dan mata tungku dari Klaten, Jawa Tengah.
Tentu
usaha itu membutuhkan tambahan dana investasi tidak kecil, dan Artono
terpaksa menjual sejumlah barang termasuk mobil-mobil yang telah
dimilikinya.Dia pun berhasil mengikuti tender pemerintah berupa
pengadaan kompor gas satu tungku berjumlah ratusan ribu unit, dengan
bendera PT Arto Metal Internasional. Selain itu, produk kompor gas itu
pun dilempar ke pasaran dengan merek dagang Armet berharga jual
Rp100.000 – Rp250.000 per unit jenis dua tungku.
Peralihan
dari produksi kompor minyak tanah ke kompor gas hingga terpasarkan
berlangsung sedikitnya satu tahun, dimana Artono tidak dapat berjualan.
Tetapi kini bisnis kompor gas Artono semakin ‘menyala’, meskipun
persaingan usaha itu cukup ketat.
Dari nol
Untuk
mengembangkan pengoperasian pabrik kompor, Artono ditunjang dana
permodalan yang dikumpulkan bertahun-tahun secara susah payah. Soalnya,
di masa awalnya tidak memiliki modal. “Saya memulai usaha dari nol, di
antaranya memproduksi perhiasan dari perak sistem kemitraan yang
dipasarkan ke Bali seusai lulus dari ITS,” papar insinyur teknik kimia
itu.
Dengan memanfaatkan modal tidak
besar, dia pun lantas menerjuni pembuatan komponen listrik mini circuit
breaker (MCB) dengan memenuhi order dari sejumlah perusahaan skala
multinasional seperti Schneider dan ABB. Usaha itu cukup menguntungkan,
karena order diberikan secara berkesinambungan hingga kini. Dengan
adanya pendapatan tetap dari produk MCB, Artono bisa melakukan
diversifikasi produk.
Perkembangan
usahanya telah menghasilkan omzet miliaran rupiah per bulan, dan Artono
kini mengembangkan sayap bisnis dengan menerjuni usaha cold storage
untuk menampung ikan hasil tangkapan nelayan di Jember. Sambil menangani
aneka industri berbasis teknologi, Artono juga melirik bidang politik
dan kini tercatat sebagai anggota DPRD Jatim dari Partai Keadilan
Sejahtera (PKS).
sumber:
http://lensa.diskopjatim.go.id/profil/umkm/208-artono-berbisnis-kompor-gas-dari-nol-.html