Label

Berita Lumajang (63) Dunia (36) Jawa Timur (28) Kiprah Aleg (12) Materi (1) Motivasi (5) Nasional (166) Renungan (126) Serba-serbi (43) Subhanallah (14) Sumbersuko (28) Syariah (1) dokumentasi (6) download (1) iptek (4) lain-lain (6) lokal (34) new (3) tsaqofah (17)

Serba Serbi

Sumbersuko

Renungan

Nasional

Tampilkan postingan dengan label Subhanallah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Subhanallah. Tampilkan semua postingan

Kisah Penjual Sosis Jadi Caleg PKS

Rabu, 04 Desember 2013

Bagi orang kebanyakan, maju menjadi calon legislatif (caleg) harus bergelimang harta. Bisa memasang gambar mentereng berukuran besar di berbagai tempat, serta mampu membeli suara pemilih dalam pemilu. Namun hal itu tidak berlaku bagi Ali (37), warga Desa Plandi Kecamatan Jombang Kota.


Caleg dari PKS (Partai Keadilan Sejahtera) ini jauh dari kriteria 'wah' tersebut. Meski siap bertarung dalam pemilu 2014 mendatang, Ali hanyalah seorang pedagang sosis keliling. Ia mangkal dari sekolah ke sekolah untuk menjajakan dagangannya. Namun soal semangat, Ali tidak boleh dipandang sebelah mata. Bahkan ia yakin mampu merebut kursi di DPRD Jombang.

Ketika pagi masih buta, bapak dua anak ini sudah sibuk di dapur rumahnya yang sederhana. Ia menyiapkan seluruh peralatan yang akan digunakan untuk bekerja. Mulai membersihkan gerobak roda tiga, memasang kompor gas, menata sosis, hingga meracik saus. Tidak lupa, pria gempal ini membawa segepok stiker yang bergambar dirinya.

Setelah semua beres, kaki kekar Ali langsung menggenjot pedal gerobaknya. Roda gerobak kayu itu menggelinding menuju TK Bapin Desa Plandi atau yang berjarak sekitar 1 kilometer dari rumahnya. Begitu Ali datang, bocah-bocah TK itu langsung menyerbu. Mereka berebutan membeli sosis yang dijajakan Ali.

Kompor yang mejeng di gerobak itupun menyala. Sejurus kemudian, bau khas sosis goreng sudah menyebar kemana-mana. Setelah selesai melayani bocah-bocah TK, giliran Ali beraksi. Suami dari Yuni Istikomah ini kemudian membagikan stiker berukuran kecil yang bergambar dirinya kepada para pengantar bocah TK. "Jangan lupa, pilih saya dalam pemilu mendatang," kata Ali penuh percaya diri.

Tuntas berjualan di TK Bapin, Ali kemudian bergeser menuju SDN Plandi. Di tempat itu, Ali melakukan aksi serupa, mulai melayani pembeli, hingga membagikan stiker kepada warga sekitar. Nah, ketika jarum jam menunjuk angka 10.00, warga Desa Plandi ini kembali ke rumah untuk beristirahat.

Namun saat hari menjelang sore, lulusan STM Dwija Bhakti Jombang ini kembali mengeluarkan gerobak usangnya. Ia berjualan di masjid yang tidak jauh dari tempat tinggalnya. "Kalau sore jualan di sekitar masjid, karena banyak anak yang sedang mengaji," kata Ali berkisah.

Sebelumnya, jika dagangan tidak habis, sosis tersebut kembali ia bawa pulang. Namun semenjak dirinya terdaftar sebagai caleg PKS, dagangan tidak habis tersebut selalu diserbu warga secara gratis. "Mau bagaimana lagi, katanya warga, caleg itu harus sering bagi-bagi," katanya sembari tersenyum.

Soal latar belakang tertarik menjadi caleg, Ali bercerita panjang lebar. Semua itu berawal ketika dirinya masuk sebagai anggota PKS setahun lalu. Seiring laju waktu, Ali akhirnya dipercaya sebagai Ketua Ranting PKS Desa Plandi.


Sejak itu pula, penjual sosis keliling ini selalu bersinggungan dengan kerja-kerja partai. Singkat cerita, saat penyusunan daftar caleg, Ali diminta maju oleh DPD PKS Jombang. Ali ditempatkan di daerah pemilihan (Dapil) Jombang VI (Kecamatan Jombang - Peterongan). "Saya nomor urut enam," kata pria yang sudah delapan tahun berjualan sosis ini.

Strategi apa yang dilakukan agar menang? Ali bercerita, sejak masuk sebagai caleg tetap, ia langsung menghubungi saudara-saudarnya untuk membantu melakukan sosialisasi. Selain itu, ia juga membangun simpul-simpul di dusun terdekat. Alhasil, hingga saat ini sudah ada 20 orang simpul yang sukarela bergabung menjadi tim sukses Ali.

"Kalau nanti terpilih, saya akan memperjuangkan kesejahteraan fakir miskin dan anak yatim. Selain itu, juga mengupayakan permodalan bagi pengusaha kecil, pedagang asongan, dan pedagang kaki lima," ujar Ali penuh semangat. (Beritajatimdotcom)

Anis Matta Islamkan ekspatriat asal Amerika

Minggu, 14 April 2013


Presiden Partai Keadilan Sejahtera Anis Matta melakukan kunjungan ke Balikpapan, Kalimantan Timur. Ada kejadian menarik di Masjid Istiqomah Balikpapan. Setelah Salat Jumat, Anis Matta didaulat untuk membimbing seorang ekspatriat asal Amerika Serikat memeluk Islam.

Anis Matta Membimbing Foster
Pria kulit hitam itu bernama Antony Todd Foster. Anis memandu Foster mengucap dua kalimat syahadat disaksikan ribuan jamaah masjid yang baru menuaikan Salat Jumat. Demikian rilis dari DPP PKS hari ini, (12/4).

Perlahan-lahan mantan Wakil Ketua DPR tersebut membimbing Foster untuk mengucap dua kalimat syahadat. Terbata-bata, Foster berupaya mengucap kalimat itu dengan baik. Begitu selesai mengucap kalimat syahadat, takbir dari ratusan jamaah yang menjadi saksi bergema.

Tak hanya membimbing proses keislaman Foster, Anis Matta juga menghadiahi nama baru untuk Foster dengan menambahi kata 'Muhammad' di depan kata namanya yang terakhir.

Dalam bahasa Inggris, Anis lalu menyampaikan sejumlah pesan dan nasehat kepada Foster tentang kewajiban dan hak yang baru bagi seorang muslim muallaf.

http://www.merdeka.com/peristiwa/anis-matta-islamkan-ekspatriat-asal-amerika.html

Pelajari Islam untuk 'Balas Dendam'

Rabu, 01 Februari 2012

Pria Tionghoa ini tak menyangka kebenciannya pada Muslim berbuah rengkuhan Islam. Di matanya kala itu, Muslim tak lebih dari sebuah golongan yang memberinya dan keluarganya sebuah pengalaman pahit.

Steven marah dan bertekad membalasnya. Ia mempelajari filsafat Islam, memahami seluk beluk agama itu, dan mendebat siapa pun yang berstatus Muslim. Hingga akhirnya, Steven menemukan kebenaran dari semua yang telah dipelajarinya.

Steven berislam 11 tahun lalu, saat usianya baru 19 tahun. Kebenaran Islam yang membawanya pada agama Allah, bukan kekaguman pada apa pun atau siapa pun. “Aku belajar (Islam), bukan terinspirasi apa pun,” katanya.

Bahkan, ia mengaku benci pada orang Islam kala itu. Kerusuhan 1998 dipandangnya sebagai wujud pencitraan wajah Muslim yang merupakan penduduk mayoritas Indonesia. “Itu pengalaman pahit bagi warga Tionghoa. Pada masa itu, aku kehilangan beberapa sanak keluarga yang tewas karena dibantai.”

Beberapa tahun sebelum krisis nasional itu, saat Steven duduk di bangku sekolah dasar, orang tuanya mengirimnya ke asrama Katolik atas wasiat almarhum neneknya. Beranjak remaja, ia mengikuti seminari untuk memperdalam ajaran Katolik. Di sana, filsafat Islam menjadi salah satu bidang ilmu yang didalami.

Pasca peristiwa 1998 yang traumatis itu, Steven mempertekun pendalamannya tentang Filsafat Islam untuk membayar kemarahannya. “Aku jelas tak mungkin membalas kekerasan itu dengan perang fisik, apalagi dengan membunuh. Karena itu, aku bertekad membalasnya dengan menghajar akidah mereka,” geramnya.

Begitulah, Steven belajar Islam untuk ‘membalas dendam.’ Berkat pendalamannya itu, ia selalu siap dan percaya diri untuk berdebat dengan setiap Muslim yang ditemuinya. “Satu lagi kelemahan Muslim kutemukan pada masa itu, saat sebagian besar mereka tak mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang agama mereka sendiri,” ujarnya prihatin.

Steven terus membekali diri. Ia terus belajar, hingga akhirnya tahu bahwa ajaran Islam benar. Kebencian pada Muslim yang pernah dirasakannya tak menghalangi hatinya untuk menerima kebenaran Islam.

“Semua yang diajarkan Islam benar. Melihat para Muslim yang berperangai tidak baik, aku melihatnya sebagai kesalahan yang bersumber dari diri mereka. Mereka tidak berperilaku sesuai ajaran Islam,” ujarnya.

Tak Kenal Maka Tak Cinta

Kamis, 11 Agustus 2011

Masih ingat kemuliaan Rasulullah Muhammad yang ditawari malaikat untuk menimpakan dua buah gunung kepada masyarakat Thoif yang mengusir nabi bahkan menyiksa beliau. Mungkin kalo saya ditawari hal yang sama tentu akan mengiyakan tawaran tersebut. Tapi Rasulullah tidak menerima dan masih berharap dikemudian hari akan ada yang beriman dan anak cucu mereka. Mungkin kisah dibawah ini salah satunya, seseorang yang suka menghina Rasul dan Islam tapi akhirnya berbalik kepada Islam setelah mengenalnya lebih dekat. 
Untuk lebih jelasnya kita lihat di TKP

Tina Stylianidou
Dulu, Keluarga Tina Stylianidou terkenal sebagai keluarga terpandang keturunan Yunani di Turki. Ketika pemerintah Turki memutuskan untuk menendang mayoritas warga negara Yunani keluar dari Turki dan menyita kekayaan mereka, keluarganya kembali ke Yunani dengan tangan kosong. Inilah yang melandasi keluarganya sangat antipati pada Islam.

Dari sisi keluarga ibunya, mereka tinggal di sebuah pulau di Yunani yang persis berbatasan dengan Turki. Selama perang,  Turki menduduki pulau dan membakar rumah-rumah mereka. Jadi mereka melarikan diri ke daratan Yunani untuk bertahan hidup. "Tak hanya benci Turki, mereka juga benci Islam," katanya. 

Yunani - yang diduduki oleh Turki selama lebih 400 tahun - mengajarkan padanya untuk percaya bahwa untuk setiap kejahatan yang dilakukan terhadap orang-orang Yunani, Islam yang  bertanggung jawab. Bahwa Turki adalah Muslim dan kejahatan mereka mencerminkan keyakinan agama mereka. "Jadi selama ratusan tahun kami diajarkan dalam sejarah kami dan buku-buku agama untuk membenci dan mengolok-olok Islam," tambahnya. 

Di sekolah, ia mendapat pelajaran bahwa  Islam sebenarnya bukan agama dan Muhammad  adalah bukan seorang nabi. "Dia hanya seorang pemimpin yang sangat cerdas dan politisi yang mengumpulkan sejumlah aturan dan hukum dari orang-orang Yahudi dan Kristen, menambahkan beberapa ide sendiri dan menaklukkan dunia."

Salah satu tugas dari sekolah, adalah membuat olok-olok tentang dia dan istrinya atau sahabatnya. Ia pun mengerjakan tugas itu dan menerjemahkannya menjadi sebuah karikatur yang diacungi jempol oleh guru-gurunya.  "Semua karikatur dan fitnah terhadap dirinya yang diterbitkan di media hari ini sebenarnya merupakan bagian dari kurikulum kami," katanya. 

Tetapi, aku Tina, Allah melindunginya sehingga kebencian terhadap Islam, tidak masuk hatinya. Sebagai seorang remaja, dia suka  membaca dan  tidak benar-benar puas atau yakin dengan kekristenannya. "Saya memiliki kepercayaan pada Tuhan, rasa takut dan mencintai Dia, tetapi untuk hal-hal yang lain bingung. Saya mulai mencari-cari tapi saya tidak pernah mencari terhadap Islam, mungkin karena latar belakang saya menentangnya). Tapi pada akhirnya, Allah mengasihani jiwa saya dan menuntun saya dari kegelapan menuju cahaya kebenaran - Islam - tunduk hanya kepada Satu Allah."

Di tengah kebimbangan, ia dipertemukan dengan seorang pemuda yang telah lebih dulu memutuskan menjadi Muslim. Dari dialah, ia belajar Islam lebih dalam. termasuk, membaca secara lengkap Shirah nabawiyah, sejarah rasulullah Muhammad SAW. Belakangan, ia menerima pinangan pemuda itu dan bersyahadat. 

"Menjadi seorang Muslim, saya  merahasiakannya dari keluarga dan teman-teman selama bertahun-tahun. Kami tinggal bersama suami saya di Yunani berusaha mempraktikkan Islam tapi itu sangat sulit - hampir mustahil," katanya.

Di kotanya, tidak ada masjid, tidak ada akses ke studi Islam, tidak ada orang berdoa, berpuasa, atau perempuan memakai jilbab (penutup kepala Islam). Yang ada hanya beberapa imigran Muslim yang datang ke Yunani hanya demi alasan ekonomi, dan tidak begitu peduli dengan kehidupan spiritualnya. "Bahkan, mereka lebih Barat ketimbang kami yang orang Barat," katanya. 

Dia dan suaminya, harus shalat buru-buru, agar tak diketahui orang. Mereka menandai kalender dengan tanda-tanda tertentu, agar sesuai dengan kalender Hijriyah; terutama Ramadhan dan Dzulhijah. 

"Ketika putri saya lahir, kami memutuskan untuk bermigrasi ke sebuah negara Muslim. Kami tidak ingin membesarkannya di lingkungan di mana dia akan berjuang untuk mempertahankan identitas Muslimnya, atau bahkan lebur bersama mereka," katanya. 

Sekarang, empat tahun sudah mereka tinggal di Turki. "Saya kerap merasa sangat rindu rumah, dan bertanya-tanya apakah sudah waktunya untuk kembali ke Yunani, negara yang indah dimana saya dilahirkan dan mencoba menemukan cara untuk menggabungkan identitas indah dan budaya nenek moyang Yunani  serta identitas Islam saya. Tapi saya merasa bangga dan bersyukur kepada Allah bahwa saya dapat menjadi warga Yunani dan Muslim yang baik," katanya.

Dulu Benci, Sekarang....

Rabu, 20 Juli 2011

Mungkin kisah berikut ini bisa mengilhami kita untuk tidak membenci orang yang membenci kita, karena bukan tidak mungkin keadaannya akan berbalik....

JR Farrell masih mengingat betul masa kecilnya, bagaimana kedua orang tuanya bertengkar gara-gara uang, situasi kehidupan dan perkara-perkara lain. Tak hilang pula dari kenangannya saat ia mesti hidup di rumah-rumah sosial di sisi selatan Chicago hampir tanpa apa pun untuk di makan.

"Dengan keluarga beranggotakan 10 orang, sulit bagi ayah saya untuk menopang hidup sesuai dengan cara yang paling diinginkan,'tuturnya.

Masa muda yang sulit


Ayah farrell --berdarah campuran Jerman dan Irlandia--adalah pekerja keras tapi juga pemabuk. Meski kerap memukuli ibunya, arrell mengaku masih mencintai ayahnya.

Setiap kali pulang dalam kondisi mabuk dan kesal terhadap sesuatu ia akan mendatangi Farrell dan adik-adinya serta menimpakan semua lewat pukulan hingga tak ada yang bisa dilakukan. Farrell kerap tak bisa berjalan atau bernafas gara-gara pukulan tadi. Begitu pun bila kakak lakinya mengoceh dan jengkel ia pun akan menerima serangan fisik. "Itulah sebagian besar masa kecil saya." kenang Farrell

Masuk masa remaja, semua yang ada di sekitar Farrell mulai menggoda, teman wanita, minuman, klub malam, obat-obatan dan yang lain. "Tapi entah saya tak bisa, saya melarang diri untuk terlibat dalam semua tadi. Saya hanya merasa itu tidak benar."

Salah satu adiknya ternyata adalah pengedar narkoba terbesar di Chicago. Hampir setiap hari ia membawa jenis obat-obatan ke rumah untuk dijual eceran di lingkungan sekitar. Si adik paham betul pandangan Farrell.

Begitu adiknya tak berada di rumah, Farrell membuang semua obat-obatan senilai 1000 dolar ke toilet dan mengguyurnya. Saat pulang dan mengetahui itu, adiknya, tutur Farrell, sangat bernafsu membunuhnya. "Ia mungkin akan membunuh saya bila memiliki kesempatan. Tentu saya dibela orangtua karena saya lebih tua dan saya dianggap harus mengajarinya untuk lebih baik.

Pencarian Pengetahuan

Semua peristiwa dalam masa kecil hingga remaja membuat Farrell menyadari betapa rapuh kehidupan. "Saya tak ingin mati sebagai idiot, jadi saya mulai belajar apa pun dan semuanya." tutur Farrell.

"Satu hal yang patut diketahui tentang keluarga saya, mereka sangat kompetitif terhadap satu dan yang lain. Begitu mereka melihat salah satu anggota lebih maju maka mereka ingin menghentikan anda dari jalur dan membuat anda tak bisa melangkah lebih maju," ujarnya.

Mengetahui antusias Farrell, orangtuanya cemas. Mereka mengkhawtirkan ia akan tercuci otak atau mengikuti aliran atau mengkultuskan sesorang. Mereka benar. Pada 1994, Farrell menjadi Nazi. Ia mengaku saat itu menyukai fakta bahwa Hitler memiliki kendali atas ribuan orang. "Menjadi Nazi, membuat saya merasa penting, menjadi seseorang." Untuk satu ini, ayahnya tak menentang, justru senang dengan seluruh pemikiran Farrell.

Ada alasan mengapa ayah Farrell suka dengan gagasan Nazi. Sedikit ke belakang pada 1960-an, ketika Martin Luther King Jr. mulai membakar semangat orang-orang dengan 'mimpinya', ayah Farrell menrencanakan menyingkirkan semua warga kulit hitam dari area pertanian Chicago.

Satu fakta, ketika Martin Luther King Jr bersama pendukungnya turun ke jalan di sisi barat Chicago, ayahnya telah mengorganisir massa. Geng itu tak hanya membuat kulit hitam keluar kota, tetapi juga memicu perang antara kulit putih dan kulit hitam. Hari itu pula, ayah Farrell menghantam hidung Martin Luther King dengan batu bata, dan hingga kini, tutur Farrell, ia selalu berkoar-koar tentang itu.

Lama setelah itu, tahun 1997, keluarganya beserta Charles Mason memulai lagi misi rahasia. Farrell berda di sana ketika mereka mengorganisir serangan terhadap bocah kulit hitam berusia 11 tahun yang tak sengaja berjalan di lingkungan kulit putih Chicago. Mereka bisa membunuhnya setelah menganiaya si bocah, namun memilih meninggalkan ia berdarah-darah sebagai tanda peringatan. Setelah menyaksikan itu, Farrell merasa gagasan Nazi dan semua berbau ras tak lagi cocok dengannya.

Titik Balik


Pada 1995, Farrell bertemu dengan wanita pertama yang membuat ia jatuh cinta. Meski ia memiliki kesempatan untuk berbuat apa pun dengan gadis tersebut, lagi-lagi ia melarang dirinya. "Saya tidak bisa, saya tak membolehkan diri saya untuk memiliki hubungan intim dengan seseorang yang tidak saya nikahi." ujarnya.

Beberapa bulan setelah itu ia melamar kekasihnya. Mereka bertunangan tanpa sekalipun berhubungan seksual, sesuatu yang tidak biasa di kalangan barat. "Kami berdua paham bahwa akan banyak masalah terjadi bila kami lakukan itu," tutur Farrell.

Saat bersama kekasihnya ia mulai lebih fokus. Farrell terus belajar dan belajar. "Saya tahu saya merasa kehilangan sesuatu dan mulai menyadari kehidupan dan tujuan saya hidup, hanya saja saya tak bisa menunjuk pasti," tutur Farrell.

Semakin ia membaca, semakin besar pula upaya orang tuanya untuk menariknya mundur, seperti yang ia tuturkan soal keluarganya yang kompetitif. Orangtua Farrell mulai melakukan serangan mental. "Mereka mengatakan betapa buruknya saya waktu kecil dan bagaimana saya tidak berterima kasih sebagai anak atas makanan dan tempat berteduh yang mereka berikan untuk saya," tutur Farrell.
"Orang tua saya tak pernah lulus SMA. Mereka hanya sampai tingkat 8 lalu putus sekolah saat tingkat 9. Karena itu pendidikan orang tua saya terbatas. Semua yang mereka tahu hanyalah berdasar apa yang mereka lihat di TV dan perilaku orang-orang," kata Farrell.
Namun bukan berarti Farrell tak menghargai orangtuannya. "Saya memiliki rasa terima kasih besar terhadap apa yang mereka lakukan. Saya menghargai disiplin mereka," ungkap Farrell. Atas didikan mereka pula ia sudah mendapat pekerjaan pertama pada usia 12 tahun. Pada usia 13 ia sudah bekerja penuh waktu dengan pendapatan setara yang dihasilkan orangtuanya.

Pada usia 16 tahun ia telah memiliki apartemen pertamanya. Ia memasak, membersihkan rumah dan mencuci pakaian, berbelanja sendiri. Farrell tengah bersiap menikah. Saat itu ia mengikuti pandangan orang tuanya yang menilai seseorang berdasar perbuatannya "Saya sepakat dengan orang tua saya, hingga kini," akunya.

"Namun itu pula yang membuat saya membenci Muslim dan Islam. Saya sungguh benar-benar membenci Muslim dalam tingkat yang tak anda percayai," ujarnya. Karena media? "Ya itu bagian dari propaganda, namun sebagian besar saya menilai itu karena ulah Muslim. Mereka kadang adalah pihak yang merusak reputasi Islam sehingga membenci kami. Itu menyedihkan tapi itu faktanya," ujar Farrell yang telah memeluk Islam.

Hadiah Paling Berharga
Pada 1997, tunangan Farrell memberinya Al Qur'an sebagai hadiah. "Semata-mata karena saya begitu suka membaca," tuturnya. "Sekedar memberitahu bagaimana dulu saya membenci Muslim, begitu ia memberi Al Qur'an kami bertengkar hebat dan kami putus hingga beberapa saat," kenang Farrell.

Akhirnya suatu malam ia mengambil kitab suci tersebut dan mulai membacanya. "Saya masih ingat betul saat itu, rumah begitu bersih, udara terasa enak dan nyaman, sorot lampu sungguh pas untuk membaca. Itu Alquran versi terjemahan Abdullah Yusuf Ali," tutur Farrell.

Ia membaca bagian awalan, tiga halaman pertama, dan, "Saya mulai menangis seperti bayi. Saya menangis dan menangis. Saya tak bisa menahan diri. Seketika saya tahu bahwa inilah yang saya cari selama lini. Saya seperti ingin memukuli diri sendiri karena tak segera menemukan sejak dulu," ujar Farrell.

Ia merasa tersihir oleh bait-bait Al Qur'an. "Ini bukan Islam yang saya kenai. Ini bukanlah Arab, bukan sesuatu yang buruk yang saya pikir sebelumnya," kata Farrel. Ia merasa hidupnya dibungkus sepenuhnya dalam halaman-halaman tadi. Farrell menjumpai seperti membaca jiwanya dalam Alqur'an. "Sungguh indah, tetapi juga membuat saya menyesali diri. Setelah itu saya kembali menjalin hubungan dengan tunangannya dan mendiskusikan banya hal secara dewasa," ujarnya. Tak lama setelah itu, Farrel dan tunangannya memeluk Islam dan beritikad untuk hidup sebagai Muslim, meski itu berarti tinggal terpisah.

Begitu orangtua Farrel mengetahui itu, pecahlah kemarahan mereka. "Ayah saya mengancam membunuh saya. Ia berkata, 'Kamu lahir Katholik, jadi tolong Tuhan, saya akan memastikan kamu mati sebagai Katholik,'". Reaksi ibu Farrell pun setali tiga uang.

Saat itu Farrell berhasrat besar untuk kuliah. "Saya ingin menempuh pendidikan formal. Saya dapat pekerjaan dan membayar semua kebutuhan untuk melanjutkan pendidikan saya hingga ke perguruan tinggi," tuturnya.

Saat itu pula ia didepak keluar dari rumah dan Farrell pun tinggal di jalan selama 6 bulan. "Saya menyantap makanan dari tempat sampah, tidur di luar saat malam-malam terdingin, waktu itu tahun 1999," tutur Farrell.

Namun itu semua tak menyurutkan semangat Farrell. "Saya berjalan bermil-mil untuk bisa bersama Muslim. Saya dikejar keluar dari lingkungan tertentu oleh polisi hanya gara-gara masuk ke lingkungan kulit hitam demi mengikuti shalat Jumat. Saya dilempari batu, diludahi, dikasari. Saya hanya ingin bisa bersama Muslim lain,"

Hingga suatu hari ia bertemu seorang teman yang membantunya. Si teman berkata, bila Farrell bisa membangun sebuah masjid dalam toko knalpotnya, maka ia bisa tinggal di sana hingga menemukan tempat lebih layak. Farrell pun setuju.

Toko itu memiliki ruang di tingkat dua, sekitar 186 meter persegi yang dipakai untuk gudang. Setiap hari Farrell menghabiskan waktu berjam-jam untuk membuang sampah dan memindahkan pasokan inventaris. Dalam satu bulan ia telah menggarap setengah ruangan, membangun dinding, menambah jendela, memasang satu pintu, menggelar karpet, mengecat dan akhirnya membuka masjid toko knalpot pertama di Kota Chicago. "Saya belajar pertukangan dari paman saya. Itu adalah pekerjaan penuh waktu saya yang pertama." tuturnya.

Sekitar 6 bulan berikut ia berhasil mendapat satu pekerjaan bagus dan pindah bersama dua teman ke apartemen baru. Tunangannya tak ada dalam adegan hidupnya kini. "Kami telah setuju untuk hidup sebagai Muslim, bukan seperti orang bodoh. Saya lebih mencintai dia dari sebelumya, namun menjadi Muslim jauh lebih penting dari pada bersama seseorang dan kami belum menikah," ungkap Farrell.

Pada 1999 ia menjadi Presiden Asosiasi Mahasiswa Muslim di kampusnya. Setiap hari ia menghadiri majelis taklim, ke seminar. Ia mulai memiliki seseorang yang menjadi tempat bertanya dan membangun hubungan dengan teman-teman Muslim lain.

Pergi Haji


Pada tahun 2000 Farrell melaksanakan ibadah Haji. Sebuah pengalaman yang tak pernah ia lupakan. Ia mengunjungi Madinah dan lingkungan di sekitarnya. "Satu hal yang saya sadari Haji adalah kebenaran tentang Tuhan dan sejarah Islam. Selama ini saya mungkin hanya bisa mengetahui dari buku mengenai tempat dan orang-orang, di sana saya melihat dengan mata sendiri keajaiban sejarah Islam. Saya seperti hidup dalam sejarah. Saya merasa Hadis-hadis menjadi hidup. Saya seperti menyaksikan sahabat di atas puncak bukit. Saya mencium bau perang Badar. Saya menghirup udara yang dulu juga dihirup Rasul," tutur Farrell.

Meski ia sendiri tanpa istri dan keluarga, Farrell menyadari Islam adalah kehidupan. "Bukan hanya cara hidup tapi kehidupan itu sendiri. Saya memahami Islam bukan sekedar agama, karena agama dapat dibiaskan. Saya memahami bahwa Muslim bukanlah Islam dan Islam tak bisa dinilai karena aksi Muslim. Muslimlah yang dihakimi oleh nilai-nilai Islam.

Farrell selalu bermimpi bekerja di sektor bantuan yang meringankan dan menolong beban orang lain. Kini Farrell bekerja untuk Global Relief Fondation dan telah bergabung selama setahun

Dalam sebuah essay, Farrell menulis, "Sebanyak yang bisa saya tuturkan, tak ada yang dapat memaparkan isi hati saya. Saya hanya menyebut sedikit dari kendala yang sayah hadapi. Saya tahu banyak orang di luar sana mengalami jauh lebih banyak mungkin lebih buruk lagi. Tujuan saya berbagi adalah untuk mengatakan bahwa saya memahami kesulitan yang dialami mereka di sana, Wassalamu'alaikum"

Keturunan Tionghoa Terbuka Untuk Mengenal Islam

Rabu, 13 Juli 2011

Syiar Islam di kalangan keturunan Tionghoa mulai menuai hasil. Hal itu terlihat dari keterbukaan di sebagian keluarga Tionghoa untuk mengenal Islam. Demikian diungkapkan Humas sekaligus pengurus Masjid Lautze dan Yayasan Ali Karim Oei, Yusman Alfian kepada republika.co.id, Saat dihubungi via sambungan telepon, Senin (11/7).

Dikatakan Yusman, sudah menjadi hal umum di masjid Lauzte melihat keluarga yang kebetulan non Muslim ikut melihat secara langsung proses pembimbingan anggota keluarganya yang kebetulan memeluk Islam. Kondisi itu, menurut Yusman, merupakan kemajuan yang patut disyukuri. Sebab, selama ini banyak kisah yang memilukan terkait perlakuan keluarga terhadap anggotanya yang memutuskan untuk memeluk Islam.

"Sikap mereka patut diapresiasi, apalagi mereka juga tak segan bertanya soal program pembinaan," kata dia.

Menurut Yusman, kebanyakan pandangan mereka soal Islam cenderung positif. Mereka bahkan detail menanyakan apapun guna mempermudah anggota keluarganya yang tengah mengikuti pembinaan. "Sebagian mereka bahkan berpesan kepada anggota keluarganya untuk tidak memeluk Islam secara asal-asalan," kata dia.

Namun, tambah Yusman, keberhasilan itu belumlah capaian akhir. Sebab, masih banyak pekerjaan rumah bagi umat Islam untuk lebih mendekatkan diri lagi kepada kalangan tionghoa. Pendekatan yang dimaksud adalah tidak memeta-metakan umat Islam berdasarkan asal usulnya. "Ya, harapannya, tidak ada embel-embel dibelakang Muslim, seperti misal Muslim Tionghoa," kata Yusman.

Sementara itu, jumlah keturunan tionghoa yang memutuskan memeluk Islam terus bertambah. Menurut Yusman, setiap minggunya minimal ada dua orang yang mengucapkan dua kalimat syahadat. Dengan demikian, bila dikalkulasi perbulannya, jumlah keturunan tionghoa yang memeluk Islam mencapai 40 orang dalam sebulan. Namun, dia belum bisa menyebutkan berapa jumlah mualaf yang bersyahadat sepanjang Januari-Juli 2011.

"Kami belum mengkalkulasinya, tapi alhamdulillah, setiap minggunya pasti ada yang bersyahadat," kata dia.

Dikatakan Yusman, tidak semua individu yang bersyahadat berasal dari Jakarta saja tapi juga berasal dari kawasan Bogor, Tangerang, Depok dan Bekasi. "Cukup beragamlah," kata dia. Yang terpenting, kata dia, individu yang bersyahadat tidak hanya berasal dari kalangan Tionghoa tapi juga kalangan pribumi lain.

Tragedi 09/11 Gak Ngaruh Tuh....

Sabtu, 09 Juli 2011


 Tragedi 09 September sejatinya ditujukan untuk menghancurleburkan citra Islam dimata dunia. Tetapi tidak bagi Angela Collins. Angela Collins pernah membuat kehebohan di Amerika Serikat. Bukan tentang film televisi yang dibintanginya, tapi tentang keislamannya. Ia bersyahadat tak lama setelah Tragedi 11 September 2001. Padahal  banyak anggota keluarganya yang meninggal pada 11 September. Ternyata bencana 11 September tersebut tidak membuat dia membenci Islam tapi malah sebaliknya, bagaimana bisa terjadi?? begini penuturannya:

 
After
 Angela Collins: Mengapa saya memutuskan untuk berIslam?

Saya merasa bahwa saya tidak bisa mengendalikan apapun yang terjadi dalam hidup saya atau dalam kehidupan orang lain.

Islam adalah satu-satunya agama yang mengkomunikasikan penyerahan total kepada Sang Pencipta kita, Pencipta semua manusia dan segala sesuatu. Sebagai seorang Muslim saya tahu bahwa semua yang saya lakukan pertama dimulai dengan niat dan kemudian saya harus mengubah niat itu menjadi upaya dalam rangka melaksanakan apa yang telah ditetapkan. Kebijaksanaan ini mendefinisikan jalan saya untuk menjadi orang yang lebih baik kepada diri sendiri, keluarga saya, komunitas saya dan semua saudara-saudaraku di bumi.

Dalam hakekat Allah (satu-satunya tuhan) membuka hati saya, Islam memberi saya arah, dan sekarang aku hidup untuk melayani keluar panduan yang dipinjamkan oleh Pencipta saya untuk kebahagiaan di bumi ini dan insya Allah, di akhirat.

Sementara agama adalah sumber daya untuk membantu memandu diri kita untuk berperilaku yang baik melalui spiritualitas kita, tidak ada prasyarat yang lebih jauh diambil dalam pemahaman mental.

Saya seorang mualaf. Katolik adalah agama nenek moyang saya. Pada usia 14 tahun, saya menolak konsep trinitas dan mempersempit apa yang saya lihat sebagai kisah rumit 'tiga dalam satu' ke 'dua dalam satu' dan mulai menghadiri gereja Baptis.

Sepanjang hidup saya, saya telah mencari pemahaman, tetapi ketika datang ke kepercayaan lama saya, saya benar-benar bingung mengenai "mengapa Tuhan akan datang sebagai manusia dan akan membiarkan dirinya untuk mati bagi dosa-dosa hanya mereka yang cukup istimewa untuk percaya dalam (nya atau anaknya) penyaliban". Saya menemukan keterangan ini berlebihan dan membagi keraguan saya kepada pendeta dan pemuka agama yang memberikan segala upaya untuk memnjelaskan kepercayaan Kristen demi memahamkan saya. Aku bertanya pada diri sendiri: "Mengapa agama saya begitu rumit?" Ketika saya mencapai usia dewasa, saya memutuskan untuk membuatnya sangat sederhana. Hanya ada satu, Pencipta kita dan itu saja. Tidak ada penjelasan lain rasional bisa masuk akal.

Saya melihat Islam sebagai agama yang datang untuk mengklarifikasi kesalahan manusia yang telah mengubah firman Allah yang asli agar sesuai kepentingan mereka. Islam adalah sederhana: Allah adalah Allah. Allah menciptakan kami dan kami menyembah Allah dan Allah saja. Allah mengutus Musa, Yesus, dan Muhammad (saw) untuk menyampaikan pesan-Nya untuk membimbing semua orang. Dalam Islam, Yesus adalah satu-satunya nabi yang tidak pernah mati itulah sebabnya ia adalah rasul satu-satunya yang akan datang kembali sebelum Hari Penghakiman untuk memimpin manusia. Quran adalah kitab terakhir yang belum pernah diubah agar sesuai dengan kepentingan manusia,  sepanjang sejarahnya.

Islam menegaskan bahwa Anda tidak diberikan jalan ke surga hanya karena Anda mengatakan Anda adalah Muslim. Dan Anda mungkin tidak langsung pergi ke surga hanya karena Anda percaya bahwa Allah bersifat monotheistik. Anda pergi ke surga berdasarkan niat dan tindakan berikut pesan yang diajarkan kepada kita oleh para rasul sendiri dan dikonfirmasi oleh kitabullah. Surga bukanlah klub eksklusif bagi mereka yang hanya mengikuti apa yang ayah mereka ajarkan. Sebaliknya itu adalah tanggung jawab Anda sendiri, terutama sebagai seorang Muslim, untuk terus mencari kebenaran, pemahaman dan untuk membaca dan berpikir. Setelah membaca setiap bab dalam Quran dua kali dan memberi catatan secara rinci, saya percaya bahwa ini hanya bisa datang dari Pencipta saya. Tanpa merasa ragu bahwa Pembuat Kitab ini tahu lebih banyak tentang saya daripada saya sendiri.

Sudah bukan rahasia lagi bahwa Islam secara serius disalahpahami dan tidak disukai oleh banyak orang di tanah air saya, Amerika Serikat. Perubahan saya ke agama "kontroversial" ini membuat keluarga dan teman-teman bingung. Saya berkeyakinan bahwa Allah menuntun saya kepada Islam dengan meningkatkan gairah saya dalam mengeksplorasi perspektif yang tidak lazim melalui perjalanan keluar. Saya mempunyai ketertarikan membangun jembatan bagi manusia dimanapun daripada mempromosikan ideologi saya sebagai satu-satunya yang dapat berkerja bagi semua orang .

Sementara itu "Culture Shock" adalah istilah sederhana untuk menyebut perbedaan gaya hidup yang berbeda sangat drastis dari umat Islam di Timur Tengah, saya melihat keindahan besar dalam kemurahan hati orang, kekompakan dalam keluarga dan penerimaan langsung dari seorang gadis begitu beda dengan gaya nya. Meskipun demikian, pada saat ini saya menghadapi kejutan budaya dalam komunitas saya sendiri yang mayoritas muslim Timur Tengah. Saya memahami tantangan seorang Muslim lahir dalam wajah agama  mereka untuk membedah budaya yang  mereka sendiri di dalamnya. Setelah menemukan diriku dalam Islam, saya dapat mematuhi ajaran-ajaran Quran dan Hadist disamping untuk memotong kompas manifestasi budaya yang diajarkan oleh orang Islam yang sejak lahir. Islam adalah multi-budaya dan merupakan sistem yang dapat diadopsi dalam lingkungan apapun pada setiap titik waktu.

Saya yakin mengatakan bahwa jika Allah tidak meniupkan Islam ke dalam jiwa saya, saya tidak akan pernah menemukan Angela. Well, hari ini, di sinilah aku: Angela, seorang Muslim Amerika: jiwa yang terus-menerus mencari Penciptanya dan telah menemukan Pencipta semua yang ada di alam semesta dan seterusnya, dalam Islam.

Angela Collins

Liburan, Bertemu Hidayah

Jumat, 08 Juli 2011

Leila Reeb, wanita Inggris berusia 29 tahun, memeluk Islam ketika usia 25 tahun. Dia kini menikah dengan Danny (28) yang juga seorang mualaf sejak empat tahun lalu.

Pasangan guru yang tinggal di Milton Keynes, Bucks, itu menuturkan bahwa setiap orang pasti merasa heran ketika mendengar ada orang yang masuk Islam.

"Reaksi yang biasa ketika orang tahu bahwa aku masuk Islam pada usia dua puluhan tahun. Yakni, rasa ingin tahu yang muncul,’’ cerita Leila Reeb. ‘’Aku dan suami sama-sama orang Inggris berkulit putih. Jadi, Anda jangan berpikir kami seperti ‘tipikal’ Muslim.’’

Pemberontak, Tato hingga Piercing
Leila Reeb memiliki pendidikan yang normal dalam sebuah keluarga khas Inggris. Dia tumbuh dengan kondisi di mana agama tidak benar-benar memainkan peran apa pun dalam kehidupan.

‘’Saya adalah seorang remaja stereotip,’’ katanya.

Leila Reeb tumbuh sebagai remaja pemberontak. Dia memiliki tato dan piercing pada bibirnya. Dia juga punya pacar dan senang pergi minum-minum bersama teman-teman. ‘’Di Inggris, ada budaya minum dan saya menghabiskan sebagian waktu untuk pergi ke bar,’’ ceritanya.

Leila Reeb tidak punya teman muslim. Dalam pandangannya saat itu, Islam adalah budaya patriarki di mana kaum laki-laki mendominasi dan menindas kaum perempuan.

Liburan ke Mesir
Pandangan sempit Leila Reeb tentang Islam berubah ketika dia pergi berlibur ke Mesir. Usianya saat itu sudah menginjak 25 tahun.

Di Mesir, Leila Reeb bertemu dengan penduduk Muslim setempat. Dia menemukan dirinya diserap oleh budaya mereka. ‘’Ketika mendengar panggilan ibadah setiap hari , ada sesuatu yang hidup dalam diriku. Aku mulai merasakan hubungan spiritual yang kuat dengan Islam,’’ tuturnya. ‘’Aku heran bagaimana orang-orang tampak hormat.’’

Setelah tiba di rumah, Leila Reeb memutuskan untuk mempelajari Islam lebih dalam. Dia menjalin hubungan dengan seorang teman yang telah masuk Islam.

Sang teman mengundang Leila Reeb untuk berbincang-bincang. Ketika Leila Reeb masuk, ruangan itu penuh dengan wanita mengenakan niqab. ‘’Saya pikir mereka akan menilai saya. Tapi, mereka begitu ramah,’’ ceritanya.

Saat mendalami Islam, Leila Reeb menemukan banyak kebiasannya selama ini yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Namun, dia menilai Islam lebih masuk akal untuk diikuti. Salah satu contohnya adalah larangan untuk tidak minum minuman keras karena kebiasaan tersebut buruk bagi kesehatan. Leila Reeb kini juga menemukan bahwa menutup aurat itu lebih membebaskan daripada menjadi budak mode.

Segera setelah semua itu, Leila Reeb akhirnya memutuskan untuk mengucapkan syahadat. ‘’Rasanya seperti hal yang benar untuk dilakukan. Tapi, saya butuh beberapa pekan untuk memberitahu keluarga saya dan saya merasa gugup tentang reaksi mereka,’’ katanya.

Isu Teroris
Saat Leila Reeb masuk Islam, ada banyak penangkapan teroris di Inggris. Keluarga Leila Reeb sempat khawatir. Tetapi, Leila Reeb melakukan upaya nyata untuk menunjukkan kepada mereka bahwa dirinya tidak berubah.

‘’Saya memakai jilbab. Tapi, aku saat itu memilih untuk tidak memakai jilbab dan keluarga saya bisa melihat aku masih orang yang sama. Sekarang mereka sangat mendukung,’’ tutur Leila Reeb.

Danny dan Leila Reeb datang dari keluarga non-muslim. Mereka bertemu secara online mengobrol tentang ini dan itu. Mereka menikah dua tahun lalu di sebuah masjid.

‘’Kami beruntung tinggal di Inggris karena setiap orang bebas untuk menjadi apa yang mereka inginkan. Saya bangga menjadi orang Inggris dan menjadi seorang Muslim. Tidak ada konflik antara keduanya,’’ katanya.

Leila Reeb rajin membaca Alquran dan belajar lebih banyak tentang Islam sepanjang waktu. Makan makanan halal dan berpuasa selama Ramadhan adalah perubahan besar pada kehidupan Leila Reeb. ‘’Bangun setiap pukul 03.00 dini hari untuk berdoa itu tidak pernah mudah,’’ kata Leila Reeb. ‘’Tapi, sekarang aku benar-benar percaya bahwa aku kini benar-benar hidup. Aku tidak pernah menyesali pilihan saya."

Tertarik Islam karena Lebih Utuh & Sempurna

Sabtu, 18 Juni 2011

Nuh HA Mim Keller
Nuh Ha Mim Keller masyhur sebagai seorang pakar hukum Islam. Bahkan, ia ditabalkan menjadi seorang teolog dan pakar tasawuf terkemuka di Barat. Keller pun menerjemahkan sederet kitab ke dalam bahasa Inggris. Di balik semua pencapaiannya itu, siapa sangka, ia adalah seorang penganut Katholik Roma yang kemudian memeluk Islam.

Keller terlahir pada 1954 di Northwestern, Amerika Serikat (AS). Ia lalu mengambil studi filsafat dan bahasa Arab di Universitas Chicago dan Universitas California, Los Angeles. Ia mengaku dibesarkan di sebuah daerah pertanian dalam keluarga yang taat menganut Katholik Roma.

“Sejak kecil, gereja memberikan alam spiritual yang tak terbantah, yang lebih riil daripada alam fisik yang berada di sekelilingku. Akan tetapi, aku tumbuh dewasa, hubunganku dengan agama itu sertamerta menimbulkan persoalan, dalam akidah ataupun amal,“ ujarnya sepeti dikutip dalam buku Bulan Sabit di Atas Patung Liberty.

Sejak kecil, ia mencoba membaca Alkitab. Namun, saat membacanya, ia menilai kitab suci itu bertele-tele dan tak memiliki susunan koheren. “Sehingga menyulitkan orang yang ingin menjadikannya sebagai pedoman hidup,“ tutur Keller. Pandangannya tentang agama yang diwariskan orang tuanya itu semakin terbuka ketika dia mulai masuk kuliah.

“Ketika aku masuk ke universitas, aku tahu bahwa keaslian kitab suci itu, khususnya Perjanjian Baru, benar-benar meragukan dan merupakan produk kajian hermeneutik modern kaum Kristen sendiri,“ ungkapnya. Rasa penasaran tehadap kebenaran agama yang dianutnya sangat tinggi. Ia lalu membaca terjemahan Norman Perrin atas The Problem of the Historical Jesus karya Joachim Jeremias, salah seorang ahli Perjanjian Baru ternama abad ini. Hal itu dilakukannya agar bisa memahami teologi kontemporer.

Keller pun mulai terpengaruh dengan pandangan Jeremias dan teolog Jerman, Rudolph Bultmann, yang menyatakan bahwa menulis biografi Yesus adalah mimpi yang mustahil dilakukan. Menurut mereka, kehidupan Kristus yang sebenarnya tak mungkin direkonstruksi dari Perjanjian Baru secara meyakinkan.

“Jika hal ini diakui sendiri oleh penganut Kristen dan salah seorang ahli tekstualnya yang ternama, lalu apa yang akan dikatakan oleh musuh-musuhnya?“ ujar Keller. Ia lalu belajar filsafat di universitas.
Menurutnya, filsafat mengajarkan untuk menanyakan dua hal terhadap siapa pun yang mengklaim memiliki kebenaran Apa yang Anda maksudkan? Dan, bagaimana Anda tahu?
Ia pun mengajukan kedua pertanyaan tersebut terhadap tradisi agama Katholik Roma yang dianutnya. “Namun, tak kutemukan jawaban dan aku pun sadar bahwa agama Kristen telah terlepas dari tanganku. Aku pun kemudian mulai melakukan pencarian yang mungkin tidak populer bagi kebanyakan anak muda di Barat yakni mencari makna di balik dunia tak bermakna,“ ungkap Keller.

Dalam masa pencarian kebenaran itulah, ia kemudian mulai mengenal Alquran. Awalnya, ia hanya membaca terjemahan Alquran. Keller mengaku tak begitu tertarik dengan terjemahan Alquran itu. Ia justru penasaran dengan Alquran yang berbahasa Arab.

“Aku tahu kitab aslinya (Alquran) yang berbahasa Arab telah diakui keindahan dan kefasihannya di antara berbagai kitab agama manusia.
Aku bertekad belajar bahasa Arab untuk membaca aslinya,“ paparnya.
Ia pun memutuskan untuk belajar bahasa Arab di Chicago.

Dalam waktu satu tahun, ia berhasil mempelajari tata bahasa dengan nilai yang baik. Meski begitu, ia masih merasa kurang. Keller akhirnya memutuskan untuk mempelajari bahasa Arab ke Kairo, Mesir. Di Mesir, Keller mengaku men emukan sesuatu yang benar-benar membawanya kepada Islam.

“Yakni tanda monoteisme murni pada para penganutnya, yang jauh lebih mengejutkanku daripada apa pun yang pernah kulihat sebelumnya,“ ujar Keller. Di negeri piramida itu, ia bertemu dengan banyak Muslim, mulai dari yang baik hingga yang buruk.

Selama di Mesir, ada sebuah pengalaman yang berkesan di hati Keller. Suatu ketika, ada seorang pria di pinggir Sungai Nil di dekat taman Muqyas. Tempat itu biasa dilewatinya. Ia pun mendekati orang itu. Ternyata pria itu sedang shalat di atas sehelai kardus, dengan wajah menghadap ke seberang air.

Awalnya, Keller mengaku akan lewat di depan orang itu. Namun, niat itu diurungkannya. Ia memilih memutar dan berjalan di belakang pria yang sedang shalat itu karena tak ingin mengusiknya. “Aku menyaksikan seorang manusia larut dalam hubungannya dengan Tuhan, tak memperhatikan kehadiranku.“

Ia pun sempat bertemu seorang remaja di Kairo. Anak itu lalu mengucapkan salam kepada Keller di dekat Khan Al-Khalili. Siswa yang duduk di sekolah menengah pertama yang pandai berbahasa Inggris itu bercerita kepadanya tentang agama Islam. Dia menjelaskan tentang Islam semampunya. “Ketika kami berpisah, kurasa dia berdoa agar aku menjadi Muslim,“ tuturnya.

Saat berada di Kairo, Keller mengaku memiliki seorang teman yang berasal dari Yaman. Ia selalu meminta temannya itu untuk membawa Alquran dan mengajarinya belajar bahasa Arab. Di kamar hotel tempatnya menginap tak ada meja. Sehingga, Keller pun meletakkan Alquran di dekat buku-buku yang berjajar di atas lantai.

Melihat Keller menyimpan Alquran di atas lantai, temannya lalu membungkuk dan mengangkatnya. “Ia memuliakan Alquran. Ini membuatku terkesan sebab kutahu dia kurang taat menjalankan agama, tetapi tetap terlihat pengaruh Islam terhadap dirinya,“ ungkap Keller.

Saat berada di Mesir, Keller mengaku mengalami banyak peristiwa dan pengalaman. Setelah melepas agama Katholik Roma yang dianutnya, ia lebih memilih untuk tak beragama sementara waktu. Dalam kondisi tak beragama itulah, pikirannya selalu berkecamuk.

Ia menyadari pun bahwa seorang manusia haruslah beragama.
Pada saat itu, ia mulai terkesan pada pengaruh agama Islam terhadap kehidupan kaum Muslim. Keller menilai agama Islam begitu mulianya tujuan. “Aku menjadi semakin tertarik kepada Islam karena ekspresinya yang lebih utuh dan lebih sempurna.“

Keller pun kerap merenung. Hingga akhirnya, ia menyadari bahwa Islam adalah agama yang menyempurnakan jalan. Agama yang paling komprehensif dan mudah dipahami untuk mengamalkan hal ini dalam kehidupan sehari-hari. Ia pun benar-benar jatuh cinta dengan Islam.

Hingga akhirnya, seorang temannya di Kairo mengajukan pertanyaan, “Mengapa engkau tidak menjadi seorang Muslim?“ Ketika mendengar pertanyaan itu, Keller telah meyakini bahwa Allah SWT telah menciptakan dirinya untuk menjadi bagian dari agama Islam. “Islam benar-benar memperkaya para pengikutnya, dari hati yang paling sederhana hingga kaum intelektual yang paling cerdas. Seseorang menjadi Muslim bukanlah melalui tin dakan pikiran atau kehendak, melainkan semata-mata melalui kasih sayang Allah,“ tuturnya. Keller pun mengucapkan dua kalimah syahadat dan menjadi seorang Muslim pada 1977 di Kairo, Mesir. Hingga akhirnya, ia menjadi seorang pemikir dan ulama terkemuka. Islam dalam Pandangan Nuh Ha Mim Keller Oleh Heri Ruslan Keller adalah pakar hukum Islam yang diakui kehebatannya oleh seorang ulama terkemuka Abd alRahman al-Shaghouri. Tak heran jika Keller pun diakui sebagai seorang Syekh pada tarekat tawasuf Shadhili. Ia menetap di Aman, Yordania. Ia dikenal sebagai seorang ulama dan pemikir Islam di abad modern.

Lalu, apa pendapatnya tentang kondisi umat Islam saat ini? Syekh Nuh Ha Mim Keller berpendapat bahwa nasib buruk politik Islam dewasa ini bukanlah sebuah kehinaan agama Islam, atau menempatkannya pada sebuah kedudukan rendah dalam tatanan alamiah berbagai ideologi dunia.

“Aku memandangnya sebagai fase rendah dalam perputaran sejarah yang lebih luas. Hegemoni asing terhadap negara-negara Islam telah pernah terjadi sebelumnya,“ paparnya. Menurut dia, peradaban Islam pernah tergelincir pada harubiru kehancuran akibat serbuan bangsa Mongol pada abad ke-13 M.

Saat itu, kata dia, bangsa Mongol menjarah kota-kota dan mendirikan piramida kepala manusia dari gurun Asia Tengah hingga ke jantung negeri-negeri Islam. “Sesudah itu, takdir telah mendorong kaum Turki Usmani untuk membangkitkan firman Allah SWT, dan membuatnya menjadi realitas politik yang menggetarkan hati yang berlan sung selama berabad-abad,“ ungkapnya.

Menurut dia, inilah saatnya mendorong kaum Muslim kontemporer untuk berjuang demi sejarah baru kristalisasi Islam, sesuatu yang mungkin didambakan umat manusia.

Lewat Internet, Masuk Islam

Kamis, 16 Juni 2011

Yuk da'wah di dunia maya
Usianya baru 18 tahun. Ia tinggal bersama ibunya di sebuah kota kecil di Amerika Serikat. Berpamitan hendak berlibur dan jalan-jalan ke luar negeri, ia terbang ke Arab Saudi dan menyatakan keislamannya di negeri itu.

"Dia masih ada di sini untuk berlibur," kata Majed Al-Osaimi, direktur www.edialogue.org, website dakwah yang banyak dikunjungi publik Barat yang tertarik pada Islam.

Berbicara kepada Arab News, ia mengatakan seorang remaja, yang sedang belajar di Amerika Serikat, juga menerima Islam sebagai agama baru setelah ngobrol dengan seorang daiyah yang berhubungan dengan website itu.

"Gadis itu telah memperoleh beberapa pengetahuan tentang Islam dan membersihkan semua keraguannya selama 20 menit percakapan dengan pekerja dakwah kami dan menyatakan dia ingin segera bersyahadat," kata Al-Osaimi.

Dia mengatakan, situs, yang didirikan pada bulan Maret tahun ini, telah berperan dalam mengislamkan 119 orang dari kebangsaan berbeda. Kini mereka terus menjalin kontak dengan para mualaf ini untuk melakukan bimbingan online.

Ia memprediksi, jumlahnya akan meningkat pesat, mengingat respons jamaah maya saat ini. "Setiap satu atau dua hari sekali, ada satu orang yang menerima Islam sebagai agama mereka melalui website kita," jelasnya. 

Al-Osaimi juga meminta Muslim lainnya di Barat untuk mengajar anak-anak mereka tentang Islam pada usia dini. "Itu tugas mereka untuk membawa anak-anaknya atas dasar budaya Islam dan tradisinya," katanya.

Ia mengatakan ia juga telah menghubungi gadis itu dan menemukan bahwa ia telah belajar banyak tentang Islam dari sumber yang berbeda.

"Dia bertanya beberapa pertanyaan yang sangat penting tentang Islam," tambahnya. Gadis itu juga ingin belajar bahasa Arab untuk membaca dan memahami Alquran dalam bahasa aslinya.

Dia mengatakan mereka yang berkebangsaan India adalah mayoritas mualaf baru yang menyatakan keislamannya melalui website yang berbasis di Dammam, Arab Saudi ini.

Ia menjelaskan, situs dijalankan oleh 11 staf yang kesemuanya adalah relawan dan pekerja full-time. Mereka yang memeluk Islam melalui situs ini berasal dari  Inggris, Perancis, Australia, Amerika Utara, Filipina, Rumania, Nigeria, dan Kamerun.

Lebih dari 90 ribu orang sejauh ini telah berpartisipasi dalam web chat room mereka.

"Kami memiliki rencana untuk memperluas situs web termasuk dalam beragam bahasa," katanya.


Gara-Gara Tilawah Al-Qur'an, Satu Keluarga Masuk Islam

Kamis, 09 Juni 2011

Zainab dan Ghalib, usai akad nikah di Masjid Al-Aqsha,

Yayasan Pengelola Al-Aqsha (YPA) yang Suci, menyelenggarakan pernikahan antara Ghalib Samir Kiwan dan Zainab Muhammad Nuhas—keduanya dari kota Haifa—di Masjid Al-Aqsha, Sabtu (28/5).

Pernikahan mereka sengaja digelar di salah satu kiblat umat Islam tersebut untuk mendapatkan berkah dari Allah SWT. Dalam acara akad nikah ini, turut hadir keluarga kedua mempelai, dan sejumlah jamaah shalat. Ketua YPA, Jamal Rasyid, juga turut hadir dan mendokan sang pengantin.

Syekh As'ad, Imam Masjid Al-Istiqlal di Haifa bertindak sebagai penghulu. Ia mendoakan kedua mempelai agar pernikahan yang mereka jalani diberkahi Allah SWT. Ia juga berharap keduanya dapat menjalani kehidupan sebagai suami istri selama mungkin, dalam kehidupan yang penuh kebaikan dan keberkahan.

"Pernikahan di masjid ini (Aqsha) adalah pernikahan mubarak (yang diberkahi), dan tugas kita untuk memakmurkannya selama-lamanya," kata Syekh As'ad dalam khutbah nikahnya.

"Selama ini Masjid Aqsha menyelenggarakan pernikahan untuk pemuda dan pemudi Palestina, namun hari ini kedua mempelainya berasal dari Haifa, Israel. Kami meminta para pemuda dan pemudi agar menikah dengan cara penuh berkah seperti pernikahan ini," pesan As'ad.

Pernikahan Ghalib dan Zainab ini menjadi istimewa karena, sang mempelai putri adalah mualaf yang baru dua tahun lalu memeluk Islam. Kedekatan dan keterikatan Zainab dengan Islam bermula empat tahun lalu saat ia tertarik mendengar bacaan kitab suci Al-Qur'an, dan mengikuti tayangan program agama Islam di televisi satelit.

Kedua hal inilah yang mengubah jalan hidupnya dan seluruh keluarganya—kedua orang tua dan empat saudara perempuannya—secara tiba-tiba. Dua tahun lalu, mereka semua—satu keluarga—memutuskan masuk Islam dan mengucapkan dua kalimah syahadat. "Ibu saya merasa tenang jiwanya ketika mendengar bacaan (tilawah) Al-Qur'an, meskipun beragama Kristen. Demikian pula yang dirasakan oleh ayah saya," tutur Zainab.

Setelah itu, keluarga ini kian intensif mendengarkan tilawah Al-Qur'an dan mengikuti kajian-kajian keislaman yang ditayangkan di televisi kabel. Inilah yang kemudian menguatkan tekad untuk segera bersyahadat.

"Ini seperti firman Allah dalam Al-Qur'an; "Janganlah kamu disedihkan oleh orang-orang yang segera menjadi kafir; sesungguhnya mereka tidak sekali-kali dapat memberi mudharat kepada Allah sedikit pun. Allah berkehendak tidak akan memberi sesuatu bahagian (dari pahala) kepada mereka di hari akhirat, dan bagi mereka azab yang besar," kata Zainab seraya mengutip surah Ali Imran ayat 176 dengan fasih.

Adapun Ghalib, dengan mata berkaca-kaca menuturkan kisah pernikahannya dengan Zainab. "Tiga pekan sebelum menikah, saya dan tunangan saya membaca surah Al-Isra' bersama-sama. Setelah itu saya berziarah ke Masjid Al-Aqsha," ujarnya.

"Dan entahlah, saya tidak tahu apa yang mendorong langkah saya untuk mendirikan shalat di Masjid Qubbatush Shahra (Kubah Emas). Setelah shalat dua rakaat, saya membaca surat Al-Isra' hingga selesai. Di sana pula kami berdoa dan bertekad untuk menikah," tutur Ghalib.

Menurut Ghalib, sebelumnya ia dan Zainab tidak mengetahui jika di Masjid Al-Aqsha juga bisa dilakukan pernikahan. Suatu ketika, usai melaksanakan shalat di Masjid Al-Istiqlal, ia langsung menemui Syekh As'ad—imam masjid—dan menyatakan keinginannya untuk menikah. "Syekh As'ad mengatakan di Masjid Al-Aqsha juga bisa diselenggarakan pernikahan yang diurus oleh YPA. Akhirnya, kami pun menikah di sini. Rasanya seperti mimpi," kata Ghalib penuh haru.

Ketua YPA, Jamal Rasyid, mengucapkan selamat dan mendoakan pasangan suami istri ini agar mendapatkan keturunan yang saleh yang akan menegakkan Al-Aqsha dan membela kaum Muslimin. "Berbahagialah kalian berdua dengan pernikahan yang diberkahi ini. Pernikahan kalian adalah pernikahan yang baik. Dan kami doakan agar Allah menganugerahi kalian anak keturunan yang saleh dan berguna bagi umat, insya Allah," harap Jamal.

Jill: Menjadi Muslim adalah Hal Terindah dalam Perjalanan Hidup Saya

Rabu, 18 Mei 2011

Ia meminta dipanggil Jill (bukan JIL lho/pen) saja. Menganut Islam beberapa tahun lalu, dia kini mantap menjadi Muslimah. "Insya Allah, Islam akan saya bawa sampai maut menjemput," ujarnya. Berikut kisahnya tentang pilihannya pada Islam:


"Saat remaja, saya bekerja sampingan di sebuah restoran milik orang Palestina. Ya, pemilik itu seorang Muslim. Ini kali pertama saya, remaja kulit putih kelahiran Amerika, bersinggungan dengan Muslim. Dia shaleh. Dia memperlakukan karyawan dengan "hati". Dia menyambut siapa saja dengan ramah, bersalamaan. Dia sangat berbeda dengan Muslim yang saya kenal.

Masuk kuliah, saya memutuskan memilih jurusan sejarah timur tengah. Di sini, saya mengenal lebih jauhtentang Islam dari perspektif sejarah. Siapa penyebar ajaran Islam, bagaimana dia, apa isi ajarannya, dan seterusnya. Hati saya makin tertawan pada Islam. Namun saat itu belum memutuskan menganut Islam.

Pada perjalanannya kemudian, saya berkenalan dengan seorang pemuda yang mengenalkan saya pada sufisme Islam. Dari pemuda yang di kemudian hari menjadi suami saya ini, saya menyimpulkan satu hal tentang Islam: agama yang logis dan knowledgeble. Satu kata yang selalu saya ingat: "Jill, islam adalah agama yang logis. Dia bukan hanya agama, tapi jalan keluar untuk hidup."

Dan saya membuktikannya. Setiap kali ada masalah, Islam membimbing saya untuk tenang dan keluar dari masalah itu. Ajaran Islam juga bisa diterima akal. Bahkan, misalnya, untuk hal remeh kenapa wanita harus mengenakan jilbabpun, ada alasan logis yang bisa diterima akal.

Saya memutuskan berislam tidak dengan cara membabi buta. Saya mempelajarinya lebih dulu. Saya orangnya sangat berhati-hati. Betul, calon suami yang mengenalkan saya lebih jauh pada Islam, tapi pendapatnya bukan harga mati bagi saya. Saya tetap mengikuti kelas pendidikan Islam, bertanya pada teman-teman yang lain, dan seterusnya. Intinya, saya terus belajar.

Menganut Islam adalah hal terindah dalam perjalanan hidup saya. Insya Allah, saya akan membawanya hingga maut menjemput. Berislam, bukan sekadar mengucap syahadat, selesai. Insya Allah, saya akan terus belajar tentang Islam, meningkatkan dan terus menjaga keimanan saya. Insya Allah, semoga Allah selalu membimbing saya."

Redaktur: Siwi Tri Puji B
Sumber: Berdasar pengakuannya via situs Youtube dan sejumlah sumber lain

Ratna Novita Menyadari Keinginannya Jadi Muslim

Selasa, 29 Maret 2011


Saat Jauhi Islam, Ratna Novita Menyadari Keinginannya Jadi Muslim

Monday, 28 March 2011 17:27 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Meski dibesarkan dalam keluarga Budha, sejak kecil, orang tua Ratna Novita, 32 tahun, tidak pernah memaksa atau melarangnya untuk menganut agama tertentu. "Intinya kami sendiri yang mencari agama itu," ungkap Ratna

Ayah dan ibunya membebaskan dalam urusan satu itu. Tak heran, bila menyimak kisahnya, Ratna yang tertarik belajar Islam sempat pula beribadah di Gereja.

Perkenalan serius dengan Islam dimulai ketika duduk di bangku sekolah dasar. Sebenarnya Ratna yang melihat teman-temannya sebagian besar beragama Islam, awalnya ikut-ikutan memilih pelajaran agama Islam. Maklum, saat itu sekolah umum hanya memberikan dua pilihan pelajaran agama, Islam dan Kristen.

Sejak itu, Ratna mulai mempelajari segala hal tentang Islam, mulai kisah para nabi, bacaan Shalat, surat-surat pendek serta sejarah Islam. Lambat laun ketertarikannya dengan Islam sangat besar.

“Lingkungan sekitar yang mayoritas Muslim membuat saya tertarik dengan Islam, maka dari sana lah saya giat mempelajari segala hal mengenai Islam” ujar Ratna

Ratna tak hanya belajar di sekolah. Selepas maghrib bersama teman-temannya di kampung halaman, ia mengikuti pelajaran mengaji Al Qur'an.

Rutinitas itu ia lakoni selama enam tahun. Ratna yang keturunan Tionghoa dan tercatat beragama Budha dalam data kependudukan sipil, mengaku merasa menjadi Muslim meski belum pernah mengikrarkan syahadat.

Tapi ketika SMP, ritual Ratna mulai berganti. Ketika ia tinggal dengan kakaknya yang menganut Katholik, di sekolah ia beralih mempelajari agama tersebut. Tiap minggu ia juga ikut pergi ke gereja bersama sang kakak.

“Saat SMP saya ikut kakak, jadi saya mengikuti agama yang ia anut. Tetapi saat saya menginjakkan kaki ke gereja saya tidak merasakan kenyamanan di sana," ungkapnya.

"Saat itu saya pikir karena baru pertama kali dan masih canggung. Tetapi lama kelamaan rasa itu semakin tak bisa dipungkiri. Saya benar-benar tidak tenang di gereja” tutur anak ke-6 dari 8 bersaudara itu.

Ketidaknyamanan itu membuat Ratna berpikir ulang. Ia menyadari Katholik bukan lah agama yang ia cari selama ini. Islam-lah yang sesungguhnya ia butuhkan. Kesadaran itu mendorong Ratna untuk kembali pada Islam.

Ia pun membulatkan tekad dengan mengucap dua kalimat syahadat di salah satu masjid di kampungnya, Jawa Tengah. “Saat SD mungkin dianggap karena ikut-ikutan teman, tetapi saya merasakan hal yang lebih dari sekedar ikut-ikutan," ujarnya.

Setelah menyandang status sebagai seorang Muslim, Ratna tak hanya menjadikan Islam sebagai agama sesuai catatan sipil di KTP. Ia juga terus belajar menegenai Islam dan mencoba mengaplikasikan semua ajaran agama yang ia peroleh sebelumnya dalam kehidupan sehari-hari.

Saat menikah, Ratna memutuskan untuk menutup auratnya sesuai dengan perintah agama. Selama pernikahannya Ratna dikaruniai satu orang anak.

Meskipun saat ini ia telah berpisah dengan sang suami, namun, itu tak membuat ke-Islamannya menurun. “Awalnya saya merasa sendiri, karena saya pikir sangat jarang keturunan Cina yang menjadi seorang muslim," tuturnya.

Akhirnya ia mencoba mencari di internet mengenai keberadaan komunitas Muslim Cina dan mendapatkan satu komunitas Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) yang berkantor di Jakarta Timur. "Kini saya mengikuti pengajian di Masjid Lautze, Pasar Baru,” tutur Ratna

“Islam adalah agama yang Damai, banyak hal-hal yang diluar akal manusia” ujar Ratna. ”Saya mengatakan demikian karena saya telah merasakannya," katanya.

Beberapa perilaku keseharian itu menurut Ratna, seperti menyisihkan uang untuk bersedekah setiap hari. Ia merasakan manfaat besar dari bersedekah, yakni pertolongan Allah yang tidak diduga-duga ketika ia tengah mengalami kesulitan.

"Intinya adalah kita harus yakin akan kebesaran Allah, karena setiap prilaku kita Allah akan membalasnya, jika kita menjadi orang baik maka Allah akan senantiasa member kebaikan pada kita” ujarnya.

Ratna kini memiliki keinginan besar untuk beribadah Haji. Ia juga berharap dapat mendirikan sebuah yayasan sosial untuk membantu orang-orang yang tidak mampu terutama dalam bidang pendidikan. “Dikampung saya masih banyak orang-orang kurang mampu, jika saya bisa membantu mereka dalam hal pendidikan, alangkah bahagianya mereka.”

sumber: republika
Posted: PKSumbersuko

Jawa Timur

Berita Lumajang

Dunia

 

© Copyright DPC PKS Sumbersuko Lumajang 2010 -2011 | Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.